Sejak Noira. Sejak Frasa. Sejak Senja. Sejak ras manusia tercipta.

Sejak sajakku meninggalkan jejak semrawut di alam digital.

Sejak duniaku sepenuhnya diludahkan pada arrow amarah Eros.

Sejak dorama-dorama memuakkan merasuki jiwa bagai dewata yang ingin kuhajar dengan godam rahwana.

Sejak semua cermin tak berbayang.

Sejak semua bayang tak bertuan.

Sejak detik kita berani bercinta dengan kekacauan.

Sejak kicauan murka yang menyeret bahagia dengan kerangkeng beban di kaki kanan.

Sejak mata tak mampu mendengar dan telinga enggan melihat.

Sejak semua indera mati terlaknati energi kekang hasrat yang terancam mati suri.

Sejak semua kenduri tak lagi bermakna dalam.

Sejak musik tak lagi bersuara dan melodi tak lagi bernada.

Sejak simfoni random mencabik daya pikir.

Sejak setan tak lagi kikir dengan wujud aslinya.

Sejak jarak-jarak personal semakin hari kian dangkal.

Sejak prosa-prosa sejak ini menjejaki sajak yang enggan beranjak tanpa kata sejak.

Sejak sajak.

Sejak sesak melesak mendadak.

Resah sudah mati.

Sudah.

Mati.

Sudah. Sudahi sejak kini sajak ini.

Sudah.