Aku mencintai malam seperti aku mencintai wanita.
Aku mencintai malam seperti aku mencintai ibuku.
Aku mencintai malam karena langit dan rembulan tak berpijak.

 

Dalam jelaga aku bercermin diri.
Bercermin hati yang konon putih suci kutemukan berdarah dan sungguh merah.
Menampar keraguan, menampar kekosongan.
Tapi saat mereka balik menamparku? Aku kikuk dan seakan hendak mati saja hari ini.

 

Tidak. Tidak semudah itu kehidupan mengalahkanku.
Maksudku bukan nafas kehidupan, tapi Leviathan yang terus merongrong otak, hati , nurani, intuisi, aura, raga dan jiwaku.
Haha. Tidak semudah itu kau bisa mencintaiku.
Karena aku sungguh membencimu akibat cintaku yang terlalu dalam pada pasir, tanah, angin, udara, hawa nafsu, cadar, rayuan compang-camping dan ballerina ketololan.

 

Ya. Aku berlapang dada menghadapi pulau yang semakin sempit dan ganas ini.
Biarkan aku terbang kemanapun sejak kau telah izinkan aku untuk menenggelamkan kewarasanku pada selembar perjanjian, akte, surat tanah, jadah, iblis, kerikil, tuhan dan martil.

 

Jadikan aku sekte pencinta kiamat yang mendahului kematian para leluhur.
Berikan aku satu nafas api untuk memanaskan es dalam kepala yang luhur.

 

Malam dalam jelaga.
Jalang, macan, harimau dan jajanan pasar menanti para jadah dan hamba sahaya yang menggenapkan puji dalam sajadah, selembar kain suci dan kafan hitam berkelindan temaram suara burung tua menjajakan nada. Janda dan raungan belati.

 

Aku terkutuk atas keyakinan dan pengetahuanku.
Aku iblis yang menjelma kesombongan lebih daripada Zeus dan Dewa-Dewi Olympus.

 

Tahtaku lebih tinggi. Kastaku menyebabkan kalian bungkam dan tunduk pada nyala keyakinan yang kukobarkan dalam podium. Dalam lakon Kalimodoso kutebar kedamaian. Dua bahasa yang menjanjikan dogma yang bukan kepalang indahnya.

 

Jika nanti kamu menemukan malam dalam jelaga. Siapkan nisanmu sejak hari ini juga. Bunuh makna jiwamu sejak hari ini juga.

 

Matikan rona pancasona sejak detik ini juga, karena kau tak akan pernah lagi mau merapal pancasona saat kau tahu betapa malam dalam jelaga lebih hitam dari dunia tanpa cahaya.

 

Aku tak bisa berpesan. Jangan ajari aku apapun. Cukup genggam tanganku, dan biarkan aku dengan angkuh meminjam waktumu untuk aku hidupi.

 

Biarkan aku meminjam waktumu, hingga kau tak membuang waktumu sedetikpun untuk kekosongan. Biarkan aku menikmati pesona yang telah dijanjikan. Pesona malam dalam jelaga. Dalam waras. Dalam paras.

 

Jadah dan aroma terapi.
Sajadah dan sekotak korek api.

~Rabu : Dini Hari~