Untuk para single, mungkin ada beberapa yang agak risih dengan pertanyaan “kapan nikah?”. Apalagi jika hal itu ditanyakan oleh orang-orang terdekat.

Dan lalu akupun sadar. Setiap tahunnya usiaku tentu bertambah. Di setiap pertambahan usia, begitu banyak ucapan selamat yang dikirimkan. Doa-doa yang selalu ku amini dengan sepenuh hati. Oleh karenanya aku selalu bersemangat menunggu hari jadi. Bersemangat menunggu doa-doa dari orang tersayang. Meski aku tahu mereka tentu tidak hanya mendoakan tiap satu tahun sekali. Doa untuk orang tersayang akan selalu terucap setiap saat. Setiap waktu.

Pun lalu beberapa teman dekat mulai mengajukan pertanyaan serupa. “Kapan Nikah?”. Pertanyaan yang aku tahu adalah sebagai bentuk perhatian mereka terhadapku. Pertanyaan yang aku tahu akan selalu terus ditanyakan hingga mereka benar-benar mengetahui kapan tepatnya aku menikah. Pertanyaan yang aku tahu akan selalu ku dengar karena di setiap pertambahan usia, aku masih saja sendiri.

Aku memang tidak terlalu ambil pusing dengan pertanyaan tersebut. Pertanyaan seperti itu tidak akan membuatku kesal. Dan aku masih bisa menanggapinya dengan candaan ringan.

Aku merasa beruntung. Sangat beruntung. Aku lalu teringat akan seorang teman yang selalu dijodoh-jodohkan entah sudah dengan berapa lawan jenis oleh orang tuanya karena khawatir jika anaknya telat menikah. Aku beruntung diberi kebebasan untuk memilih apa yang aku inginkan. Aku beruntung, ibuku termasuk orang yang percaya bahwa selain jodoh harus diusahakan, ia pun telah ditetapkan jauh-jauh hari. Dan hanya akan datang di waktu yang tepat.

kutipan percakapanku di telephone dengan ibuku.

“Ibu ga tanya kapan aku nikah? seperti temanku yang lain?”

Aku dapat mendengar ibuku tertawa kecil. Lalu menjawab.

“Ibu ga akan nanya itu, karena  ibu  tahu, kamu hanya akan menikah jika jodohmu sudah datang nanti. Mungkin ibu akan khawatir jika dalam beberapa tahun ke depan kamu belum juga menikah. Tapi kembali pada keyakinan. Semua udah ada yang ngatur kan?”

Ah, ibu. Aku tahu ibu sebenarnya khawatir. Tapi aku lebih tahu, ibu pasti tidak ingin membuatku resah dengan pertanyaan itu. Ibu tentu tahu bahwa aku pun ingin menikah secepatnya. Tapi aku yakin ibu lebih tahu bahwa jodoh adalah hal yang tak akan bisa ditawar.

Lalu kami pun melanjutkan percakapan. Hingga tiba-tiba aku kehilangan kata-kata ketika ibu berkata.

“Kapan terakhir kamu ngaji? Ibu kayaknya udah lama ga pernah denger kamu mengaji.”

Ah iya. Entah kapan terakhir saya mengaji. Mungkin pada malam jumat yang entah kapan bersama kelompok pengajian lebih tepatnya kelompok tahlilan. Yang jelas, sejak memutuskan bekerja, aku merasa sudah begitu sibuk untuk mengaji rutin seperti yang duluku lakukan, dan ternyata aku telah diperbudak oleh dunia.

Aku tahu ibu bangga dengan keadaanku sekarang. Semua orang tua selalu merasa bangga dengan apa pun yang telah dicapai anak mereka kan? Tapi aku tahu, ibu akan lebih bahagia jika aku pun lebih memperhatikan urusanku dan Tuhan. Untuk keseimbangan hidup katanya, seperti yang pernah beliau katakan dalam suratnya ketika aku masih duduk di kelas tiga sekolah dasar.

 

“Karena salah satu dari tiga amalan yang tidak akan pernah putus adalah doa dari anak yang Soleh.”

 

Terima kasih untuk masih selalu mengingatkan. Meskipun aku seharusnya sudah tidak perlu diingatkan lagi untuk hal seperti itu.

 

Terimakasih ibu. Ibu nomor satu deh.