Pernah ga sih kamu bayangkan rangkaian mimpi yang aku pahat di langit? Pernahkah ga sih kamu bayangkan di setiap rentang waktu yang riuh aku selalu mengingat binar matamu?. Sebenernya sih aku ingin menjerit. Meronta. Memuntahkan semua rasa yang ada. Karena aku merasa makin tersiksa. Oleh rindu.

RINDU.
Realita yang tidak dapat kuterima. Sangat berat. Karena kau bukan milikku.
Saat aku rindu kamu. Amarah yang suci bangkit di malam hari. Merusak diri. Tak bisa berlari.

hey…
Tiba-tiba saja wajahmu berkelebatan di benak ini. Jantungku berdegub lembut. Sebuah senyum terlengkung. Manis. Teduh. Halus.
Aku rindu kamu, dan senyummu.

dan saat itu pula aku membuat kata rindu untukmu :
” Rindu kita berpelukan di luar jendela, ego mengunci pintu, dan kaki-kaki mereka menggigil menanti selimut pengakuan. Ada rindu yang membentang jauh di antara hatiku dan hatimu. Jahatnya takdir, tak merestui kita bersatu. Hatiku dirajam rindu tak berkesudahan. Aku mati kelelahan memangku rindu yang tak berkesudahan.”