Setiap ramadhan tiba, mendadak Kota Semarang dipenuhi binatang yang tak lazim. Kepalanya menyerupai kepala naga, tubuhnya lalaknya buraq, dan empat kakinya menyerupai kaki kambing. Meski hanya dalam bentuk mainan, binatang imajiner ini selalu hadir menyambut bulan suci ramadhan di kota Semarang.

 

Kehadiran binatang dengan bagian tubuh yang tak sejenis ini turut serta memeriahkan ritual penyambutan bulan puasa, yaitu dugderan. Binatang ini diarak, dan digelar untuk dijual di sepanjang Jalan Pemuda dan sudut-sudut kota. Di kauman, hampir tak ada satu ruang yang terlewatkan dari sosok Warak Ngendog.

 
Tidak ada satupun yang mengetahui asal-usul Warak Ngendog. Yang diketahui, binatang ini hanyalah mainan dalam bentuk patung atau boneka celengan yang terbuat dari gerabah.siapa yang menginspirasi pembuatannya pun tak ada yang tahu. Yang pasti sejak dugderan digelar, sejumlah pedagang menggelar mainan ini. Dalam setiap penjualan replika binatang menyerupai warak ini, penjual menaruh telur ayam matang di bawahnya. Telur itu turut serta dijual bersama waraknya.

 
Budayawan Djawahir Muhammad juga mengakui jika tidak ada satupun yang tahu siapa pembuat pertama mainan Warak Ngendog itu. Dari beberapa catatan megenai sejarah semarang juga tidak diketemukan hal yang berkaitan dengan Warak Ngendog itu sendiri.
Djawahir mengakui, Warak ngendog aslinya memang hanya berupa mainan anak-anak dengan wujud menyerupai hewan. Jika dibandingkan dengan bentuk Warak Ngendog yang ada sekarang ini, Warak Ngendog yang asli terbuat dari gabus tanaman mangrove dan bentuk sudutnya yang lurus.

 
Konon ciri khas bentuk yang lurus dari Warak Ngendog ini mengandung arti filosofis mendalam. Dipercayai bentuk lurus itu menggambarkan citra warga Semarang yang terbuka lurus dan berbicara apa adanya. “tak ada perbedaan antara ungkapan hati dengan ungkapan lisan. Selain itu Warak Ngendog sendiri mewakili akulturasi budaya dari keragaman etnis yang ada di Kota Semarang. Kata warak sendiri berasal dari bahasa arab “Wara’I” yang berarti suci. Dan Ngendog ( bertelur ) disimbolkan sebagai hasil pahala yang didapat seseorang setelah sebelumnya menjalani proses suci. Secara harfiah, Warak Ngendog bisa diartikan sebagai siapa saja yang menjaga kesucian di Bulan Ramadhan, kelak di akhir bulan akan mendapatkan pahala di Hari lebaran.

 

Warak Ngendog bagi Kota Semarang sudah menjadi ikon identitas kota dan sudah dikenal hingga keluar daerah. Beberapa titik di pusat kota, bahkan telah dibangun patung Warak Ngendog sebagai maskot penegas ciri khas kota Semarang.