Hujan di luar seperti lukisan yang dibingkai jendela. Jatuh satu-persatu, ritmis ke kolong udara. Beberapa yang lain membuat bunyi-bunyian di atas atap. Semacam iring-iringan orkestra. Dari dalam kamar, aku melesatkan pandangan keluar. Pohon jambu yang basah, langit abu-abu dan titik-titik air yang sedang menari balet. Mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Tapi sebenarnya bukan itu yang kulihat. Yang nampak di depan mata adalah bayangan teramat jauh di ujung sana.

 

Hujan tiba-tiba menjadi sebuah teropong tembus pandang, meski terhalang oleh berbagai lekuk bumi, rumah, dan jajaran pohon, seakan-akan aku bisa melihatmu. Nyata. Dirimu menggumpal nyata di dalam mata. Tapi ini adalah sebuah kesialan. Jika kau mau tahu, sebenarnya bukan itu yang kuinginkan saat ini. Aku tak ingin membiarkan bayangmu sibuk di depan mataku.

 

Kau mau tahu yang kumau? Aku ingin menembak bayanganmu yang di depan mataku itu dengan pistol, hingga mati. Menyeretnya, lalu menghanyutkannya ke sungai. Menjauhkan hatimu dari hatiku, sejauh fisik kita saat ini. Menyuntik kepalaku dengan cairan penghilang ingatan. Agar tak ada satu bytepun memory tentangmu yang tersisa di otak ini.

 

*Jam-jam mengajak bercakap dalam bahasa bayangan*

 

Entah kenapa aku seperti sedang bermain boomerang. Aku melemparkan cinta itu ke depan tapi dia kemudian berbalik, kembali lagi padaku. Aku sudah berusaha untuk mengacuhkanmu, memberi jarak paling jauh antara kepalaku dan bayanganmu, tapi semakin kuacuhkan, seakan aku makin dipaksa memasukkan tubuhmu bulat-bulat ke dalam kepalaku.

 

Malam ini aku tak merasa mendapat ilham dari siapapun, tapi entahlah, tiba-tiba seperti ada yang menuntun kakiku untuk melangkah ke hutan maya, berjalan, menikung, lalu singgah dalam rumah mayamu. Menepi aku disana, wajah dalam profilmu itu seakan-akan hidup. Dia tersenyum, matanya mencari mataku, lalu menangkapnya. Tanganmu seakan-akan keluar pula dari layar itu. Mendekat padaku, menyentuh pipiku. Membelai malamku.

 

Hatiku menjadi jajaran perkusi yang sedang ditabuh bersama-sama. Ramai, ribut dalam sini. Kekacauan dalam dada.  Ah. Aku terlalu hanyut. Buru-buru aku menyadarkan diri. Aku seperti sedang diperebutkan oleh diriku sendiri yang lain. Satu diriku ingin menjadi jarak terjauhmu, sedang satu yang lain berusaha untuk menjadi angka nol jarakmu. Kemudian aku mencoba melihat apa yang sebenarnya ada di dalam hati. Kubuka, dan kutengok, disana masih ada sekuntum rindu dan sekotak cinta untukmu yang belum tersampaikan. Dan aku tahu apa yang harus kulakukan.