Latest Entries »

Perihal cinta kita,
Takada yang megah
Takada yang mewah didalamnya
Tentulah sesekali ia menginginkannya

….Seperti kehendakmu
akan gaun dan tas tenteng
Atau bermanja – manja memintaku
menemanimu memilih make up
saat kehabisan bedak

Cinta kita,
lebih sering menghela nafas
Seperti saat kita hanya bisa melongok dari luar jendela toko perhiasan

Karena uang yang kupunya
hanya cukup untuk membelikanmu semangkuk soto ayam

Cinta kita,
Ia sederhana
Sesederhana tawa anak-anak
yang bermain di taman kota saat senja

Cinta kita,
Sesederhana itu
Membayangkan kau dan aku
berboncengan menemani anak-anak bermain sepeda

Tak megah nan mewah bukan?

Rasanya pernah kudengar sebuah sajak tentang seorang ibu gajah yang berjalan sepanjang Tanganyika untuk menziarahi belulang kedua anaknya yang mati.
Pernahkah membayangkan cinta sebesar apa yang ia miliki?

Samar-samar kuingat adegan dalam sebuah film,dimana kau dan aku di atap sebuah gedung.
Menghitung satu demi satu lampu jalan dimatikan di fajar yang murung

…..
Satu demi satu
…..

Hingga lampu ke dua puluh, lampu terakhir yang masih bisa terlihat dari bangku tempat kau menyandarkan kepala ke bahuku.
Dan aku hampir tertidur dibuai harum rambutmu yang ditutupi selendang hitam oranye hingga kau berbisik, ..fajar hampir usai..

Begitulah cerita yang akan kita wariskan pada anak-anakmu, pada anak-anakku.

Dan di suatu senja yang berwarna ungu di ujung landasan pacu,  kulepas kau terbang ke Machu Pichu sebuah negeri surga yang kau bilang selalu berkabut, berembun di dalam pikiranmu.

Ujung film menjelang sampai kutukan mantera sihir, guratan guratan luka yang nyaris kita yakini sebagai takdir kini berakhir diujung catatan kaki penulis naskah.  Hal remeh yang ternyata terasa penting seperti layaknya kata pengantar setelah judul yang memuat siapa bertindak sebagai apa, yang tak sempat aku,kamu,kita bahkan kalian nikmati..

Kau biarkan malaikat-malaikat itu pulang, membelakangi, menjauh dari ranjangmu. Setelah semalaman penuh terjaga. Menjagamu. Sementara malam mulai rapuh. Kumpulan kabut tanggal dari sepi yang kokoh. Sebagian lagi memuai seperti jiwa-jiwa terlepas dari raganya. Sebuah embun yang kita namai puisi itu mungkin memang benar-benar jatuh.

Di atas pucuk daun mangga belakang rumah, embun itu merebahkan tubuhnya, hingga  akhirnya muncrat, menyebar ke ranting-ranting pohon lain, dahan daun singkong, atap kandang yang bocor, rumput pinggir jalan dan tanah hitam yang harum selepas terbuai embun.

Ketika segala yang bernama hitam telah dihirup subuh, bunyi-bunyi saling mentasbihkan diriNya sebagai yang pertama, kau membuka mata.

Memasuki sebuah ruang yang hanya ada seorang anak kecil dan dirimu di dalamya. Anak itu mengajakmu berlari-lari kecil. Kau menyetujuinya. Napasmu saling bersahutan. Anak itu kemudian berkata; “Kau kelihatan lelah sekali, aku akan ambilkan kau minum.” Kau sendiri heran, mengapa anak sekecil itu bisa berpikir seperti itu. “Baiklah” Katamu sambil tersenyum. Anak itu pergi.

Setengah jam, satu jam, dua jam, anak itu tak kembali. Satu hari, satu minggu, satu tahun, anak itu tetap tak membawa ai untukmu. Kau memejamkan matamu. Ana yang baru kau kenal itu sudah terasa seperti nyala bagi apimu yang redup. Namun kemudian kau kehilangan hangatnya. Luka yang tak pernah punya definisi.

**

Rindu siapa yang mengigilkan hewan ternak, batu-batu lumut dan langit bulan April? Tuhanpun ta hendak memberi jawaban. Serangga-serangga, dan ular segera masuk ke liang-liang batu. Digantikan burung kutilang dan kupu-kupu daun Johar. Sebentar lagi langit akan dibuka, awan putih berbaris turun, dan cahaya akan mengalir seperti air mancur pada ember yang bocor. Ke bukit-bukit hijau di perbatasan kampung, ke sawah-sawah mili petani miskin, ke kali-kali kecil, hingga kali besar di kampung seberang.

Dan sebelum semua itu, sebelum segala sesuatu menjadi yang bernama pagi, kau akan membuka mata untuk  kesekian kalinya, melihat bayang samar, lebih nampak gumpalan awan, setelah akhirnya mendekat, membentuk bayangan sebentuk manusia. Manusia dengan tubuh kecil yang kau kenali sebagai anak kecil yang akan mengambilkan air untukmu saat kau berlari-lari kecil tapi tak pernah kembali, anak kecil yang lebih kukenal sebagai aku. Anak kecil yang terbata-bata hendak mengajari berucap;

“Selamat pagi, Ayah.”

Kanvas Amatir

Aku percayakan tinta dan pena cahaya ini dengan sepenuh jiwa supaya kau buat teduh dan bersahaja.

Kemudian kau goreskan mimpi sederhana dengan cara yang abstrak.

Warna berbeda yang dilapiskan pada langit yang kau buat menunduk setiap kali wajahmu menatap angkasa.

Bahkan mentari meredup saat kau mengibaskan rambutmu hingga mengering setelah mandi pagi.

Bisakah kita bersama saling menyempurnakan hari?

Bisakah kita bersama saling melengkapi jemari?

Bahkan aku tidak berani menitipkan rindu pada rembulan, karena dia mengaku rendah akibat cahaya jiwamu membelah malam.

Kanvas amatir ini kubawakan dengan secerca abu, supaya bisa kau cerna dan lukis penuh warna!

Tuan yang terhormat, Sekiranya Tuan dapat membaca pesan ini, tentu pada saat itu aku sudah tak berada di sini lagi.

Aku budakmu. Apa pun perintahmu kuturuti. Kuanggap saat itu engkau sangat sayang padaku. Meski tanpa belaian, elusan, bahkan sebuah mandi yang harum. Hanya sepiring nasi basi setiap hari.

Kan kucari seekor tikus, hama bagi sawah kita. Seekor ular pun kulawan agar si Kecil tak digigit saat bermain.

Tak pantas aku mengeluh.

Kukais tanah halaman. Kubuat ceruk melingkar rumahmu. Hujan semakin deras. Tadi kulihat air sungai mulai naik. Semoga banjir tak datang tiba-tiba sebelum selesai
kubuat. Kan kujaga kalian dengan segenap sayangku dan sekuat tubuhku ini.

Seekor budakmu
yang layak disebut ANJING.

“Sekali waktu Tuhan duduk semeja denganku dalam permainan dadu, aku menebak satu angka dan bertaruh nyawa padaNya. Tuhan tertawa dan melempar dadu, angka yang keluar sesuai tebakanku, tapi Tuhan membuatku lupa berapa angka yang aku pertaruhkan. Tuhan menang.”

Sekali waktu aku pernah merasa hebat.
Aku merasa tak ada yang mampu mengalahkanku.
Aku menantang apa dan siapa saja yang menghalangi jalan ku.

Aku berjalan dengan bahu terangkat dan dada yang membusung.
Tapi kerikil kecil melukai
kakiku.
Menusuk membuatnya berdarah.

Aku tertunduk kesakitan,
Kerikil kecil menghentikan jalanku
Mengkoreksi keseluruhanku.
Rencanaku untuk menjadi hebat terbatalkan.

Tak perlu tsunami atau gempa hebat.
Cukup sebuah batu kecil saja.

Perempuanku

…Perempuanku

Adalah yang lebih rela kehilangan dirinya daripada kehilanganku dan berkah Tuhannya…

Lalu bagaimana aku membalasnya.Bila bukan dengan cinta tak berbatas.

Hatinya mungkin pernah teriris, sampai lepas dari kendali kasih lemah lembut.

Namun seseorang tidak dinilai dari semata geram yang ia perbuat.

Tapi dari bagaimana kebaikan kembali ia ijinkan menguasai jiwa.

Tuhan tidak berhenti menilai sampai akhir sebuah babak jatuh bangun…

Siapalah aku yang tak mau teladani itu?…dan pantaskah bila berani menyia-nyiakan jiwa tulusnya?

Aku tampil seraya utuh namun tak begitu sempurna di hadapannya. Bahagiakan dan kecewakan dia dalam perulangan yang serupa banyaknya.

Lalu Tuhan tetap ijinkan kami bersama…

Terpujilah Dia! Dia! Dia! …dan perempuan tulus di sisiku yang diberkahiNya.

/1/
Sesuatu telah menjadi debur di lautan tanpa nama. Mengombang-ambingkan perahu kita yang dulu pernah tenang. Sempat kita tatap pesisir di ufuk yang tak pernah dikenali. Sempat pula kita baca petunjuk arah dari rasi-rasi yang sengaja membentuk posisi yang tak pernah mampu dimengerti. Maka kupeluk dirimu. Di atas perahu demi mencari tanda-tanda di mana keberartian mampu melabuhkan kita. Hanya angin yang sibuk berbisik menengahi peluk ataukah memang tiada isyarat yang mampu kutangkap dari tubuhmu. Seakan mereka berlarian, menjauhiku. Sedang tak kurasa lenganmu yang pelangi. Yang biasa melengkung di bibirku kala aku mengingatmu sambil menadahkan tangan di bawah rintikan hujan. Hujan tanpa angin yang seperti kini. Menggoyangkan perahu ke kanan kiri. Menunggu waktu menumbuhkan karangkarang hati. Mati diri pada kehampaan tak berujung.

/2/
Selanjutnya rindu mana yang kelak akan menyambut? Kita di sini, di atas perahu yang lahir dari rajutan bulu mata. Mengapung, dan hanyut membawa kita jauh. Tiba pada hampa-hampa yang menceburkan dirinya. Menjadi ombak baru yang mencipratkan heningnya di bajuku. Lalu basah. Seperti matamu—dan juga mataku diam-diam. Ataukah ombak yang ganas itu akan menghancurkan perahu kita. Kau dan aku sama-sama digulungnya. Mendamparkan kita pada pantai yang berlainan, tinggallah kita mencari jalan untuk bertahan
dengan saling menggenggam perih. Tetiba aku menjadi nahkoda yang memimpin ke mana dayung menggerak perahu untuk menghindar. Dan kau adalah layar yang mengembang lalu terlepas dari tiangnya. Dan kembali, aku sendiri dengan kuntum rasa yang sama kala perih itu kau lebamkan seutuhnya padaku. Kuteguklah laut hingga sama kerontangku dengan
dadaku. Dengan kesendirian. Perahu kita kian menjauhi arah tujuan, sedang aku ingin menangkapmu yang diterbangkan angin. Kudayung perahu koyak kita. Namun angin terlalu beringas melarikanmu. Semakin jauh aku tertinggal. Perih kian melebam di dada. Sekoyaknya perahu, sekoyaknya waktu. Laut mendadak jernih dan memantulkan wajahku. Ah, bukan aku yang kini. Namun yang lalu, yang berada di dalam kenangan bersama angan —telah diterbangkan angin. Aku membuyarkannya dengan mencelupkan tangan, merengkuh air laut dan membasuhnya ke perih luka. Sementara dirimu kian mengecil di kejauhan. Aku kian kerdil dalam sakit yang merendam luka. Melubang -lubangi duka.

/3/
Barangkali aku adalah manusia dengan segenap melankolia. Kehilangan layar yang diterbangkan angin—kau, serta kemampuan membawamu kembali. Sebab biru terlalu setia mendekap tiap luka di laut dadaku. Memaksaku berhenti di detik ini dengan sisa asa yang mengapung apung di pelupuk. Barangkali pula aku adalah pencinta dengan rindu yang karang. Kuat namun tak pernah mau beranjak dan menangisi ketegarannya sendiri. Selaik aku yang takkan pernah mau pergi dari sini. Dari perahu yang sempat membawa rangkulan senyum di jari-jemarimu. Dulu. Berilah aku isyarat barang setanda. Tentang ke mana arah angin melarikan rasa—kau. Biar kita kembali berlayar, menebas cakrawala, menuju pantai yang amat kita ingini.

/4/
Mulailah kucatat ke mana wangi bibirmu lewat mematikan bau laut yang bosan kuhirup. Menandai di ufuk mana ingatan tentangmu terbenam. Dan menghidu desir hampa yang pernah sama- sama kita rasa. Memeriksa lubang pada karang yang menyentuh ujung perahu. Mencari keberadaanmu yang telah entah dengan sisa-sisa peta senyumanmu di lubuk mata. Mata yang merah-memerih perah airnya. Maka pada suatu pagi, aku amati setiap tanda. Di air, di karang, di udara, mencuri dengar desau angin—yang melarikanmu. Berharap ada isyarat yang mampu kutangkap sebelum angin kembali merampasnya. Dan akan kau temui aku sebagai kanak yang mengeja waktu-waktu yang telah mati. Yang lalu bereinkarnasi menjadi asa baru untuk kugapai. Sebab kehilangan bukan alasan bagiku untuk mengukirkan nisan –  nisan atas segala rindu yang lebih ombak dari lautmu. Maka biarkan perahuku terbawa menujumu. Menuju ketersesatan di dadamu. Menemu muara yang kuidam. Tatap dalam kita yang lalu berpelukan.

/5/
Biarkan aku menggemuruhkan palung dadamu, yang lebih dalam dari laut manapun. Dan aku akan tetap menjadi nahkoda dengan kau menjadi layar yang kan selalu terkembang, tanpa perlu risau diterbangkan angin. Menuju pantai dengan ombak tenang, berpasir putih serta nyiur yang meneduh. Mari kita damparkan hati ke debar yang kita damba. Lalu menenggelamkan perahu setibanya di sana. Menyangsi bahwa hari ada untuk kita huni sendiri, membangunnya sendiri dengan kedipan-kedipan. Bicara tentang rahasia yang tak perlu lagi kita hanyut dan sembunyikan lagi.

Kau, perempuan yang seringkali menginginkan hujan turun di kotamu. Hujan yang sangat lebat jika kamu merasa rindu terlalu erat memeluk dadamu. Lalu, kau akan berubah menjadi bocah riang yang ingin menghambur ke rintik-rintik air jatuh itu. membiarkan ujung-ujung runcingnya membasuh kepalamu; menginginkan segala pemberat di kepala ikut hanyut bersama alirnya.

Tak jarang mendung terlalu gelap bergelantungan di kotamu, namun hujan tak hendak juga turun di situ. Mungkin juga hujan turun, namun kau tidak suka dengan petir yang menyambar-nyambar yang membuatmu terpaksa hanya bisa memandangi hujan dari kamarmu.

Kau begitu menikmati, hujan yang
selalu kau kira mampu menghapus segala penat di kepala, hujan yang kau anggap sebagai sarana untuk menumbuh kembangkan lagi asa.

Namun, kau telah melupakan suatu hal jika ada sesuatu yang bisa kamu temukan setelah hujan turun. Sebuah lengkung busur pelangi. Kau sudah terlalu berkubang dalam mendung dan hujan yang terbawa serta, hingga kau tidak sadar ada pelangi yang telah mengajakmu bermain di ujung sana.